Sabtu, 19 April 2014

Mengaji Islam dan Politik




Oleh Ustadz Aby Muluk

Kehidupan ini tak terlepas dengan berbagai dinamika, termasuk dalam hubungan kita sebagai umat beragama dengan masalah politik. Sebetulnya persoalan politik tak pernah luput dalam kehidupan kita sehari-hari, entah itu dalam hal memilih Kepala Desa, Kepala Daerah, dan seterusnya. Akibat persoalan politik, seringkali masyarakat kita terbelah dalam berbagai pandangan serta pilihan politik. Bukan sebatas berhenti hingga di situ, bahkan seringkali kita dalam masyarakat terkena adu-domba, hasud, dimana mengakibatkan konflik yang tidak diinginkan.


Dari sisi itulah kemudian pentingnya agama dan peran tokoh agama hadir ditengah-tengah masyarakat, untuk memberi penyadaran serta pengetahuan mengenai apa itu politik. Hal ini sangat penting, mengingat politik yang berkembang ditengah-tengah masyatakat kita seringkali sudah keluar dari ruhnya, dimana pada gilirannya masyarakat yang kembali menjadi tumbal politik para elit.  

Politik atau siyasah, diperbolehkan dalam agama. Namun memiliki syarat, dimana politik harus dikendalikan oleh wahyu. Tujuannya ialah untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan semata. Bagi pelakunya, akan mendapatkan surga dunia dan surga akhirat. Masyarakat pun demikian, akan mendapatkan rasa keadilan, kesejehteraan serta kemaslahatan.

Para elit politiknya, akan membimbing masyarakat menuju tatanan sosial yang religius, dan berkeadaban. Para elit akan membuat aturan serta kebijakan dalam konteks mengimplementasikan nilai-nilai kewahyuan untuk diimplementasikan dalam bentuk aturan serta kebijakan. Wahyu menjadi sumber aturan serta kebijakan para elit politik. Sehingga aturan serta kebijakan dalam dataran itu berpretensi membawa tatanan masyarakat pada keadilan serta kemaslahatan. Sebaliknya tentu saja terhindar dari bentuk aturan dan kebijakan yang menyesatkan dan menyengsarakan masyarakat.

Politik yang diatur oleh wahyu tentu saja pernah terjadi, khususnya pada masa kehidupan Rosulullah dan para sahabat. Misalnya, dalam kehidupan Nabi Muhammad  di Kota Yatsrib, yang kemudian berganti nama menjadi Kota Madinah. Kehidupan masyarakat saat itu terjamin, baik dari rasa keamanan, keadilan dan kesejahteraan. Bahkan bukan hanya umat Islam yang merasakannya, umat lain seperti Yahudi dan Nasrani pun mendapat perlakuan serta hak kewarganegaraan yang sama.

Wahyu saat itu menjadi sumber hukum, yakni yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Yaitu traktat perjanjian atau kontrak politik yang mengatur kehidupan bermasyarakat, dan juga ikatan politik antara para pemimpin serta masyarakat. Piagam Madinah saat itu mampu menjamin serta menaungi kehidupan bermasyarakat karena nilai-nilai yang ada ditopang oleh kepemimpinan atau leadership yang tangguh.

Jika politik berkuasa sepenuhnya, atau politik dikendalikan oleh nafsu, bukan oleh wahyu, maka yang akan terjadi politik tidak akan mencapai tujuan kemaslahatan. Para elitnya akan mendapatkan neraka dunia, dan juga neraka akhirat. Demikian pula, masyarakat akan berada dalam kesengsaraan yang nyata.

Politik yang dikendalikan oleh nafsu, hanya akan menciptakan penindasan sosial, rejimentasi kepemimpinan otoriter yang akut, serta kesewenang-wenangan. Dimana pada gilirannya, masyarakat akan hidup dalam kesengsaraan, ketakutan, dan mendapat rasa ketidak-adilan.

Para elitnya akan menghalalkan berbagai jalan, hanya demi untuk mendapat serta melanggengkan kekuasaan. Siyasat yang digunakan siyasat-siyasat yang bersifat syaithoniyyah, dimana nafsu setan menjadi panglima. Para elitnya akan memberhalakan apapun, termasuk menjadikan masyarakat sebagai tumbal politik.

Politik yang dikendalikan oleh nafsu ini pun pernah terjadi, misalnya, pernah dipraktekan Abu Jahal. Secara kata, Abu Jahal berarti “bapak yang kebodohan”, namun itu sebetulnya hanya julukan karena sebenarnya Abu Jahal orang yang penuh dengan tipu-muslihat yang licik. Abu Jahal merasa pintar, yakni pintar membohongi masyarakat, menghasud, dengan cara-cara kotor, ia bersiyasat dengan nafsu, merasa pintar padahal pintar dalam kebodohannya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman “wamakaru wamakarallaha wallahu khoirul makirin.” Dan mereka (kaum kafir Quraish) berbuat makar, ingatlah sesungguhnya Allah yang sebaik-baiknya pencipta makar.”

Politik yang dikendalikan nafsu dalam kehidupan masyarakat kita sekarang ini, cenderung banyak yang melakukannya, misalnya, tercermin dari praktik kaum elit politik yang melakukan korupsi. Mereka seakan merasa pintar, karena berhasil mengelabui aparatur negara serta masyarakat dalam hal membobol uang negara. Namun mereka lupa, bahwa tindakannya selalu dipantau Allah subhanahu wata’ala.

Sehingga berlakulah ayat wamakaru di atas, bahwa Allah akan membalas pengelabuan mereka, kebohongan mereka, kejahatan mereka, dan makar-makar mereka, dengan balasan siksaan yang tiada tara, baik mendapat balasan di alam dunia ini terlebih lagi akhirat nanti. Itulah sebabnya, uang korupsi yang mereka makan, sebetulnya mereka memasukan api neraka dalam perut mereka, bahkan kepada anak dan istri mereka.

Demikian, jika kaum elit politik tersadarkan bahwa politik harus dikendalikan oleh wahyu, karena jika tidak akan membawa pada petaka, kesengsaraan diri dan masyarakat, maka negara atau sebuah daerah akan  mendapakan kemaslahatan, kedamaian, serta keadilan. Masyarakat akan hidup dalam tatanan yang harmonis, dalam naungan wahyu serta kepemimpinan yang amanah. Wallahu’alam

Pesantren Kesuren berlokasi di Kampung Kesuren, Desa Ciloang, Sumur Pecung, Kota Serang, Banten. Berikhtiar mempertahankan, mendidik serta menyuarakan tradisi pesantren tradisional yang berbasis pada prinsip-prinsip Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah (Aswaja). Pesantren ini juga membuka klinik penyembuhan dari jenis penyakit fisik, metafisik atau psikis atas izin Allah SWT mengutip ayat al-Qur'an "Wanunazzilu minal Qur'an ma huwa syifaa'un warohmatun lilmu'miniin" dan "wa idza maridtu fahuwa yasyfiin". FB Fanpage: Pesantren Kesuren, Twitterland: @PKesuren, Blog: www.pesantren-kesuren.blogspot.com, Email: pesantren.kesuren@gmail.com, Kontak Personal 087783111192/ajiji. Untuk kebutuhan pengobatan, donasi bagi pesantren, konsultasi dan lain-lain, bisa melalui kontak personal atau datang langsung ke alamat kami.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar