Rabu, 14 Januari 2015

Merajut Asa, Merayakan Maulud

Berbekal hadis Nabi yang berbunyi man adzoma maulidy kuntu syafii’an lahu yawmal qiyamah yang berarti, barangsiapa merayakan dan mengagungkan maulud Nabi Muhammad maka di hari akhir nanti akan mendapat pertolongan (syafaat).



Pagi itu sekira pukul 08:00, sehabis mengajar ngaji, Usman (25) beserta teman-temannya di Pesantren Kesuren, yang berlokasi di Ciloang, Kecamatan Sumur Pecung, mempersolek panjang mulud, terbuat dari kerangka bambu yang dibentuk sesuai ukuran dan bentuk.





Kebetulan pimpinan pesantren menginginkan supaya panjang mulud dibentuk seperti kobong, bangunan pesantren terbuat dari bambu dan welit yang replikanya sudah dibuat sejak pertengahan malam oleh Pak Komeng (40).



“Kami telah membuatnya dari pukul 22:00 hingga dini hari, sehingga paginya tinggal mempercantik panjang muludnya saja,” terang Pak Komeng.



Panjang mulud itu pada siang harinya akan di arak menuju Masjid al-Mujahidin di Desa Kesuren untuk digabungkan dengan panjang-panjang mulud lainnya. Sebelum di arak, sekira pukul 10:00, Pak Syamsuri (45) lantas menyalakan petasan renteng, untuk menandakan bahwa panjang mulud dari Pesantren Kesuren siap untuk di arak dan dibawa menuju Masjid.



Di halaman Masjid, ratusan umat Islam yang merayakan maulud telah bersiap menanti panjang-panjang mulud, sambil mendendangkan syair marhabanan  dengan burdah (lagu) khas Banten. Ditengah keriuhan, bunyi petasan dari berbagai penjuru desa menggelegar. Seraya memekakan telinga, namun dapat dipahami karena landasan tauhid bahwa di hari akhir nanti mereka ingin mendapat syafaat.



Tiap tahun, tradisi merayakan maulud di desa Kesuren tak pernah absen. Entah sejak kapan, yang jelas tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun. Pesantren Kesuren adalah salah satu yang turut memeriahkan tradisi maulud Nabi di desa tersebut.



Sebuah pesantren yang bercorak kobong, atau pesantren tradisional (salafiyah) namun lokasinya berada ditengah Kota Serang, bahkan tidak jauh dari Mall of Serang (MoS). Dalam blog internet yang beralamat di www.pesantren-kesuren.blogspot.com, pesantren ini memiliki visi dan misi mempertahankan tradisi, mengolah modernisasi.



Menurut pimpinannya, di jaman sekarang sangat penting untuk memegang teguh tradisi agama, dan disisi lain harus bisa mengolah modernisasi yang datang dihadapan kita. “Seperti dalam merayakan Maulud Nabi, adalah bagian dari memegang tradisi agama yang teguh untuk merajut asa di alam modernisasi seperti sekarang,” pesan Ustad Agus Rahmat (37).   



Dengan menjaga dan mempertahankan tradisi, umat Islam tidak akan goyah dengan arus modernisasi yang datang bergelombang. Didalam modernisasi ada sisi positif yang harus diolah sehingga asa di masa depan tetap terbuka lebar.[Scriptwriter dan Koleksi Foto: Ismatillah] 








1 komentar:

  1. Subhanallah
    Doa dan salam saya untuk Ustad Agus sekeluarga dan para santri sekalian.

    BalasHapus