Pagi itu
sekira pukul 08:00, sehabis mengajar ngaji,
Usman (25) beserta teman-temannya di Pesantren Kesuren, yang berlokasi di
Ciloang, Kecamatan Sumur Pecung, mempersolek panjang mulud, terbuat dari kerangka bambu yang dibentuk sesuai
ukuran dan bentuk.
Kebetulan
pimpinan pesantren menginginkan supaya panjang
mulud dibentuk seperti kobong,
bangunan pesantren terbuat dari bambu dan welit yang replikanya sudah dibuat
sejak pertengahan malam oleh Pak Komeng (40).
“Kami telah
membuatnya dari pukul 22:00 hingga dini hari, sehingga paginya tinggal
mempercantik panjang muludnya saja,” terang Pak Komeng.
Panjang mulud itu pada siang harinya
akan di arak menuju Masjid al-Mujahidin di Desa Kesuren untuk digabungkan
dengan panjang-panjang mulud lainnya.
Sebelum di arak, sekira pukul 10:00, Pak Syamsuri (45) lantas menyalakan petasan renteng, untuk menandakan bahwa panjang mulud dari Pesantren Kesuren
siap untuk di arak dan dibawa menuju Masjid.
Di halaman
Masjid, ratusan umat Islam yang merayakan maulud telah bersiap menanti panjang-panjang mulud, sambil
mendendangkan syair marhabanan dengan burdah
(lagu) khas Banten. Ditengah keriuhan, bunyi petasan dari berbagai penjuru desa
menggelegar. Seraya memekakan telinga, namun dapat dipahami karena landasan
tauhid bahwa di hari akhir nanti mereka ingin mendapat syafaat.
Tiap tahun,
tradisi merayakan maulud di desa Kesuren tak pernah absen. Entah sejak kapan,
yang jelas tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun. Pesantren Kesuren adalah
salah satu yang turut memeriahkan tradisi maulud Nabi di desa tersebut.
Sebuah pesantren
yang bercorak kobong, atau pesantren
tradisional (salafiyah) namun
lokasinya berada ditengah Kota Serang, bahkan tidak jauh dari Mall of Serang
(MoS). Dalam blog internet yang beralamat di www.pesantren-kesuren.blogspot.com,
pesantren ini memiliki visi dan misi mempertahankan tradisi, mengolah
modernisasi.
Menurut
pimpinannya, di jaman sekarang sangat penting untuk memegang teguh tradisi
agama, dan disisi lain harus bisa mengolah modernisasi yang datang dihadapan
kita. “Seperti dalam merayakan Maulud Nabi, adalah bagian dari memegang tradisi
agama yang teguh untuk merajut asa di alam modernisasi seperti sekarang,” pesan
Ustad Agus Rahmat (37).
Dengan
menjaga dan mempertahankan tradisi, umat Islam tidak akan goyah dengan arus
modernisasi yang datang bergelombang. Didalam modernisasi ada sisi positif yang
harus diolah sehingga asa di masa depan tetap terbuka lebar.[Scriptwriter dan
Koleksi Foto: Ismatillah]
Subhanallah
BalasHapusDoa dan salam saya untuk Ustad Agus sekeluarga dan para santri sekalian.